Kamis, 20 November 2014

RAHASIA MENJADI BESAR


RAHASIA MENJADI BESAR

Markus 10:35-45. Teks ini dibuka dengan permintaan dua orang murid Yesus yaitu Yakobus dan Yohanes. Kedua murid ini cukup unik dalam keseharian mereka. Keduanya adalah orang yang bersemangat dan cukup meledak-ledak dalam emosi sehingga terkadang bertindak menurut emosi mereka. Mungkin karena sifat inilah yang membuat mereka dijuluki Boanerges (anak guruh). Keduanya meminta untuk berada di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam Kerajaan Surga. Atau dengan kata lain keduanya ingin menjadi yang terkemuka atau yang terbesar di antara murid yang lain. Besar dalam hal ini bukanlah besar secara fisik namun yang dimaksudkan adalah besar dalam arti dihargai, disanjung, dihormati, dipuji, lebih dari orang lain. Keinginan untuk menjadi besar adalah juga keinginan semua manusia, karena hal ini merupakan salah satu sifat dasar manusia.

Sikap Yesus dalam meresponi pertanyaan kedua murid-Nya ini sangat bijak. Yesus tidak menolak ataupun menerima begitu saja tetapi Yesus memberikan gambaran bahwa untuk menjadi besar dan terkemuka tidak bisa diperoleh dengan mudah, ada hal yang harus dilakukan untuk itu. Melalui jawaban Yesus kita bisa mengetahui apa rahasia untuk menjadi seorang yang besar dan terkemuka. Ini jugalah yang dilalui oleh Yesus sehingga Ia menjadi pribadi yang terkemuka.

1. Rela Berkorban (Bayar Harga) - ayat 45.
Jawaban yang Yesus berikan kepada Yakobus dan Yohanes adalah suatu hal yang sedang dijalani oleh Yesus. Sebenarnya sebagaimana kita ketahui bahwa Yesus adalah penguasa alam semesta dan Raja di atas segala raja yang terkemuka di surga dan di bumi. Namun Ia rela berkorban masuk ke dunia ini mati untuk menebus dosa manusia dan untuk menjadi teladan bagi manusia. Pengorbanan Yesus bukanlah suatu hal yang mudah dalam perwujudan-Nya sebagai manusia yang terbatas dalam banyak hal namun Ia mau melakukan semua itu. Dan seandainya Yesus membatalkan pilihan-Nya untuk mati di kayu salib, tentulah itu adalah musibah besar bagi manusia dan juga bahwa Yesus tidak akan dikenang sebagai seorang yang besar dan terkemuka yang layak dipuja dan disembah. Namun karena pengorban-Nya, Ia menjadi seorang tokoh yang paling besar dan terkenal di dunia ini.

Yesus memberikan teladan bagi kita, bahwa untuk menjadi yang terkemuka ada harga yang harus dibayar. Itu adalah hukum alam yang Tuhan telah tetapkan bagi manusia. Jika seseorang ingin berhasil, punya kedudukan tinggi sehingga dihormati dan dipuji banyak orang, maka ia haruslah tekun dalam bekerja dengan giat bukan bermalas-malasan. Seorang yang malas tidak akan mungkin berhasil dan dihormati.

Yakobus dan Yohanes menyanggupi jawaban Yesus bahwa untuk menjadi besar mereka harus minum cawan penderitaan. Hal itu terbukti dalam kehidupan mereka. Yakobus menjadi target utama Herodes untuk dibunuh, sedangkan Yohanes harus menderita dalam pembuangan di pulau Patmos. Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang terkemuka dan diakui kebesaran mereka oleh orang-orang pada zamannya.

2. Menjadi Pelayan / Hamba - ayat 43,44
Menjadi pelayan atau hamba yang dimaksud adalah suatu tindakan yang dipilih dengan bebas tanpa paksaan dan dengan penuh kesadaran. Hal ini telah dilakukan oleh Yesus ketika Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Tindakan ini dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa ada paksaan. Yesus mengajarkan demikian dan Ia pun melakukannya. Itu rahasia kedua dari Yesus untuk menjadi besar dan terkemuka.
               
Menjadi hamba untuk memperoleh kedudukan terkemuka sangat berbeda dengan pandangan dunia, dimana dunia mengatakan yang besar adalah bos dan pelayan yang terkecil. Namun Yesus menegaskan bahwa untuk menjadi yang terbesar, kita harus mau dan rela menjadi pelayan dari semua. Seorang pelayan/hamba adalah seorang yang aktifitasnya tidak terpusat pada diri sendiri melainkan pada orang lain. Makna dari kata-kata Yesus ini sebenarnya mengarah ke sikap hati kita. Apapun pekerjaan kita baik itu atasan maupun bawahan, baik bos ataupun pelayan, semua bergantung pada sikap hati kita, kerendahan hati kita. Itu sebabnya Yesus memberi contoh dalam Matius 18:1-5, bahwa seorang yang besar harus menjadi seperti anak kecil yang hatinya penuh dengan kepolosan, ketulusan tanpa kepura-puraan dan kebohongan, hati yang mau berkorban bagi orang lain.
               
Orang yang besar selalu mengutamakan kepentingan orang banyak. Seorang yang besar tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Yesus selama berada di dunia ini. Ukuran kebesaran seseorang bukanlah kedudukan tinggi, bukan kekayaan tetapi ukurannya lebih kepada seberapa besar orang itu mau berkorban dan melayani orang lain.

HIDUP YANG KOKOH


HIDUP YANG KOKOH (Matius 7:24-27)


        Teks kita adalah bagian akhir dari kumpulan ajaran Yesus yang dikelompokkan oleh Matius sebagai Khotbah di Bukit. Khotbah di Bukit sering disebut sebagai hukum-hukum Kerajaan Allah. Yesus berkata : “Setiap orang yg mendengarperkataan-Ku ini ....” Yesus menunjuk pada apa yg Dia ajarkan yang merupakan keseluruhan dari Khotbah di Bukit (psl 5,6,7). Dalam pasal 5, Yesus mengajar bagaimana gaya hidup keseharian orang yang percaya. Orang percaya harus melangkah lebih maju dari orang Farisi dan ahli Tuarat. Prinsipnya, hidup orang percaya harus lebih baik dari orang yang tidak percaya. Orang percaya harus sempurna seperti Bapa di sorga sempurna. Pasal 6, Yesus mengajarkan kewajiban iman (ibadah) dalam hubungan dengan memberi, berdoa, berpuasa, harta dunia dan mempercayai Tuhan untuk kebutuhan hidup. Pasal 7, kita diingatkan agar jangan jadi hakim atas sesama, berhati-hati terhadap ajaran & penyesatan. Jika anda memperhatikan dan hidup sesuai dengan ajaran-Nya ini, hidup anda akan utuh, kuat, bertahan dalam segala goncangan dan keluar sebagai pemenang. Dari teks ini juga, Yesus membagi orang percaya menjadi 2 kelompok. Mereka yang mendengar FA tetapi tidak melakukan dan mereka yang mendengar FA dan melakukannya. Ada beberapa kebenaran penting yang terkandung dari pernyataan Yesus di sini :

1. Hidup orang akan dihadapkan pada kenyataan-kenyataan adanya “hujan”, “angin”, & “banjir” (24-27)
Jika manusia hidup mengabaikan Firman Allah maka berkat pun dapat menjadi bencana. Hujan, angin dan banjir adalah bagian yang tidak terelakkan dan akan dialami semua orang tanpa pengecualian. Persoalan hidup manusia bukanlah pada adanya hujan, angin dan banjir, tetapi di atas apakah hidup anda dibangun? Hidup yang dibangun di atas dasar yang benar dan kuat akan bertahan menghadapi berbagai amukan hujan, angin dan banjir.


2.    Hidup yang berkualitas (unggul)
Setiap orang yang mendengarkan perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu (ayat 24).
  
a.  Kualitas hidup tidak ditentukan oleh apa yang anda pakai, apa yang anda makan & minum, apa pekerjaan anda, apa jabatan anda, apa pendidikan anda, seberapa banyak uang anda dan kemewahan rumah tempat tinggal anda.
b.  Menurut Yesus, kualitas hidup ditentukan oleh dua hal : pertama, apakah anda mendengar Firman Allah. Kedua, apakah anda melakukan Firman Allah.
c.  Orang yang mendengar dan melakukan Firman Allah, dia adalah orang yang bijaksana.
d.  Orang itu memberi makan hidupnya secara lengkap, jasmani        dan rohani.
e.  Orang itu tidak akan terancam dengan adanya bencana banjir.

3. Hidup yang punya otoritas (kuasa, kekuatan, ketahanan)
“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab
didirikan di atas batu” (ayat 25).

a.  Orang yang punya otoritas memiliki keyakinan diri.
b.  Bebas dari ketakutan dan intimidasi apapun.
c.  Hidup dalam perlindungan TUHAN.

4. Yesus melalui Firman-Nya adalah solusi yang paling efektif menghadapi berbagai kesulitan hidup.

a.  Tuhan Yesus selalu berkata : Dengarkanlah dan lakukan Firman-Ku maka kamu akan berhasil. Peganglah Firman-Ku dan kamu akan dilindungi. Bangunlah hidup di atas Firman-Ku maka kamu akan bahagia. Bertindaklah sesuai dengan Firman-Ku maka kamu akan diberkati, sehat dan kuat.
b.  Orang yang tidak membangun hidupnya di atas Yesus dan Firman-Nya, apapun orangnya pasti akan ROBOH.

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,
lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu
dan hebatlah kerusakannya” (ayat 27).


 c. Orang yang membangun hidup di atas Yesus dan Firman-Nya, apapun yang terjadi, rumahnya akan tetap kokoh.          Mengapa? Karena malaikat-malaikat, bala tentara surga, Roh Kudus bahkan Yesus sendiri akan membela dan mempertahankan hidupnya.

Kesimpulan :

1. Kualitas hidup anda ditentukan oleh seberapa taat anda pada Yesus dan Firman-Nya.
2. Ketika seseorang membangun hidupnya di dalam Yesus dan melakukan Firman-Nya, ia akan terbebas dari berbagai intimidasi setan.
3. Hidup dalam Yesus dan Firman-Nya memberikan kita otoritas untuk menikmati hidup dalam kelimpahan kasih sayang-Nya.
4. Hidup di dalam Yesus dan melakukan Firman-Nya adalah cara dan tumpuan satu-satunya untuk hidup aman dan tenang, terjamin dalam dunia ini.

Hidup Saleh


Hidup Saleh (2 Petrus 1:3-11)


Ada orang-orang yang beranggapan bahwa hidup saleh, hidup kudus di zaman sekarang merupakan sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin hidup kudus di tengah-tengah situasi yang penuh dengan kejahatan dan kerusakan moral. Tetapi pembacaan Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang percaya bisa hidup saleh / kudus!! Hidup saleh adalah suatu kehidupan yang mewujudkan karakter Kristus.

1. Mengapa orang-orang percaya bisa menjalankan hidup saleh?
Ada 2 alasan mengapa orang-orang percaya bisa hidup saleh :
A.  Karena Allah telah mengaruniakan segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh (ay. 3).
        Orang-orang percaya diingatkan kepada kekayaan rohani yang luar biasa yang Allah berikan kepada umat-Nya dengan iklas agar mereka hidup saleh. Segala keperluan yang dibutuhkan untuk hidup saleh sudah diberikan.
B.  Karena Allah telah menganugerahkan janji-janji yang berharga dan sangat besar untuk hidup saleh (ay. 4). Kata menganugerahkan maksudnya melengkapi, menghiasi dengan harta.

Allah bukan saja memberikan segala sesuatu yang berguna tetapi dihiasi / dilengkapi dengan janji-janji yang berharga dan sangat besar agar umat yang dikasihi-Nya dapat hidup kudus. Ini menunjukkan Allah sangat serius dan sungguh-sungguh mempedulikan pertumbuhan rohani anak-anak-Nya sehingga Ia memberikan semua fasilitas dan kebutuhan untuk hidup kudus.

2. Bagaimana cara orang percaya mewujudkan hidup saleh itu?
Hidup saleh / kudus dapat dijalankan oleh orang-orang percaya dengan mengembangkan 7 sifat baik yang dimiliki Kristus dalam kehidupan sehari-hari (ay. 5-7), yaitu kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, kasih akan semua orang.

Ayat 5 menunjukkan bahwa kita harus memberikan respon yang serius karena dari pihak Allah juga sangat serius. Kita diperintahkan untuk menunjukkan sifat-sifat baik tersebut dengan sungguh-sungguh berusaha. Apabila kita sungguh-sungguh melakukannya, kita dapat menjadi orang-orang yang menang dan berbuah secara rohani di hadapan Allah. Sifat-sifat kesalehan tersebut tidak bertumbuh secara otomatis tanpa usaha kita yang tekun untuk mengembangkannya. Kita harus terlibat secara aktif dan sungguh-sungguh berusaha atau berusaha dengan sekuat-kuatnya.

3. Keuntungan yang diperoleh (ay. 8-9)
Ketika kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk hidup saleh, ada keuntungan yang dapat kita peroleh :
1. Kita menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan akan Tuhan.
       Orang yang bertambah sempurna dalam perilaku   hidup akan mengakibatkan pengertian, pengetahuan dan pengenalannya akan Kristus makin matang.
2. Kita diberikan hak penuh untuk masuk dalam Kerajaan Surga.
       Orang-orang yang tetap kokoh dalam kekudusan / kesalehan akan disambut dengan penuh hormat dalam kerajaan-Nya, seperti Stefanus (Kis 7:55-56) dan Rasul Paulus (2 Tim 4:7-8,18).

AKHIRNYA, AKU BERUNTUNG!


AKHIRNYA, AKU BERUNTUNG! (Matius 25 :14-32)


Keberuntungan adalah dambaan setiap orang dan hal itu adalah kehendak Allah bagi anda. Sesulit apapun yang anda alami tetapi jika pada akhirnya anda memperoleh keberuntungan semua kesulitan itu akan lenyap dalam sukacita keberuntungan. Tuhan Yesus banyak menggunakan perumpaan ketika mengajar. Yesus menggunakannya agar murid-murid atau orang-orang yang mendengarnya cepat mengerti atau memahami maksud-Nya. Kedua, membuat para pendengar berpikir. Ketiga, menutupi kebenaran dari orang-orang yang tidak mau menanggapi ajaran dan panggilan-Nya ( Mat. 13 :10-15). Sebenarnya apa yang Yesus ceritakan disini bukanlah perumpamaan belaka. Cerita ini adalah kisah / fakta yang kelak akan dialami oleh semua orang. Saatnya akan datang, masing-masing kita akan berdiri dihadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan setiap anugerah yang Tuhan telah berikan kepada kita.

Tuan yang kaya raya mau bepergian ke luar negeri, Ia memanggil tiga hambanya dan memberikan kepada mereka modal usaha. Yang pertama, mendapat lima talenta, yang kedua, dua talenta, yang ketiga, satu talenta. Kemudian tuan mereka kembali dan masing-masing hambanya menghadap untuk memberi pertanggungjawaban. Yang pertama dan kedua, memberikan laporan keberuntungan sebab mereka telah bekerja giat. Mereka disambut dengan pujian dan diberikan bonus. Yang ketiga dihardik sebagai orang yang “jahat dan malas.” Sungguh menyedihkan nasibnya sebab ia menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan.

Talenta ukuran timbangan atau jumlah uang yang cukup besar. Satu Talenta sama dengan 34 kg (uk. timbangan). Satu Talenta uang sama dengan 6000 dinar. Upah kerja harian pada waktu itu satu dinar. Jadi satu talenta sama dengan hasil kerja selama 16  ½ tahun  nonstop. Perlu diperhatikan pemberian Talenta bukanlah diskriminasi atau mengistimewakan orang tertentu. Pemberian berdasarkan “kemampuan” masing-masing. Jadi Tuan hartawan ini tahu persis kemampuan setiap hambanya. Dan pujian yang diberikan kepada mereka bukanberdasarkan jumlah atau besarnya pencapaian mereka melainkan berdasarkan kebaikan dan kesetiaan. Talenta berbicara tentang semua kemampuan, waktu, sumber daya & kesempatan yang diberikan Allah kepada anda untuk melayani Dia di bumi ini. Talenta ini, harus dikelola dengan baik … dan dipertanggungjawabkan. Apakah anda ingin dipuji nanti oleh Tuhan sebagai hamba yang baik dan setia ? Bagiamana caranya ?

1. Maksimalkan seluruh kemampuan anda
Jika anda WL, Singer, Pemusik, Kolektan, Ushers, Cleaner, Pengurus Departemen, Pemimpin Komsel, memberitakan Injil, memberi dan sebagainya, lakukanlah semuanya dengan sebaik-baiknya dan dengan setia. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau hina bagi Tuhan. Apapun yang dapat dijangkau oleh tanganmu, kerjakanlah semua itu dengan sekuat tenaga dan bersungguh-sungguh. Temukanlah potensi yang ada pada diri anda dan tanyakan pada diri anda apakah saya telah menggunakannya untuk Tuhan ? Apakah saya telah menggunakan dengan sungguh-sungguh untuk melayani TUHAN?  Jangan pernah merasa puas dengan apa yang anda telah perbuat, tetapi evaluasi dan kembangkan terus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Itulah hamba yang baik dan setia.

2. Manfaatkan setiap waktu yang Tuhan berikan
 Hidup hanyalah sebuah kesempatan dalam waktu. Waktu berjalan terus dan kesempatan akan berakhir. Kita tidak selamanya hidup, eksis seperti hari kemarin dan hari ini. Firman Allah berkata, “pergunakanlah waktu yang ada sebab hari-hari ini adalah jahat’ (Ep 5:16). Tidak menggunkan waktu dengan baik atau korupsi waktu sama dengan kejahatan. Kita tidak selamanya hidup di bumi ini. Kesempatan kita sangat terbatas. Anda tidak akan hidup dua kali dalam dunia ini. Jadi kesempatan untuk anda melayani Tuhan dalam dunia ini hanya sekali dalam hidup. Jika anda mengabaikannya, anda menderita kerugian dan penyesalan nanti. Seperti hamba yang ketiga di atas berakhir dengan penderitaan. “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu kedalam kegelapan yang paling gelap (ay. 30 ). Nasib malang semacam ini menanti anda yang mengabaikan kesempatan untuk melayani Tuhan dengan talenta yang ada pada anda. “Orangbijak mencari kesempatan, orang bodoh menunggu kesempatan, orang bebal mengabaikan kesempatan.”

3. Lakukan semuanya dengan SETIA
 Kesetiaan, bukanlah hal yang gampang. Banyak orang memulai dengan baik dan bersemangat tetapi gagal di tengah jalan. Mengapa? Sebab kesetiaan adalah suatu perjuangan, kesabaran, ketabahan, ketekunan, kepasrahan dan ketaatan. Banyak hal yang menyakitkan, tidak menyenangkan dalam hidup (pelayanan). Tidak semuanya terjadi sesuai dengan keinginan anda. Kesetiaan menuntut pengorbanan tanpa pamrih sepeti Yesus, Dia adalah contoh kesetiaan sejati (Ibr 2:17; 3:1,2,6; Flp. 2:8). Orang yang lari, mundur dari pelayanan karena persoalan bukanlah hamba yang setia. “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wah. 2:10c).
“ Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang  BAIK dan SETIA; …. MASUKLAH DAN TURUTLAH DALAM KEBAHAGIAAN ( KEKAYAAN) TUANMU” (Mat 25:21).
Hamba yang setia, akhirnya, beruntung!!

 

Menguatkan Kepercayaan


Menguatkan Kepercayaan ( 1 Sam 30 : 1-6 )

Setelah letih dalam pelarian dan bersembunyi dari lembah ke lembah, gunung batu ke gunung batu, akhirnya, Daud pergi pada raja Akhis orang Filistin di Gat untuk menetap disana. Daud mendapatkan kepercayaan raja Akhis. Raja Akhis memberikan Ziklag pada Daud  untuk menetap,  & membangunnya sebagai kota permukiman. Kemudian terjadilah peperangan antara orang Filistin dan Israel. Dalam peperangan yang dahsyat ini, raja Akhis mengajak Daud dan serdadunya untuk turut berperang melawan Saul. Tetapi keberadaan Daud dalam peperangan tidak menyenangkan para panglima orang Filistin karena mereka ragu jangan sampai Daud berubah pikiran akhirnya menjadi lawan mereka. Raja Akhis dan panglima-panglimanya rapat dan keputusan diambil Daud dan pasukannya yang terkenal itu, dipulangkan ke Ziklag. Daud menerima keputusan tersebut dan pulkam. Tragisnya, orang Amalek telah menyerbu Ziklag dan membakar habis. Semua harta benda mereka dijarah, istri dan anak-anak diangkut dengan tertawan. Kejadian ini membuat mereka semua sakit hati, menangis habis-habisan, emosi - marah sekali,dan bermaksud melempari Daud  dengan batu. 

Dari dulu sampai sekarang kalau terjadi sesuatu yang menjadi sasaran pertama adalah para pemimpin, BBM naik, harga2 naik, ketidak-amanan dsb semua yang disalahkan adalah pemimpin. Dunia kita sedang berada dalam situasi seperti ini. Banyak orang sakit hati, menangis dan marah-tidak puas.  Daud dalam menghadapi kenyataan yang sangat pahit dan terjepit, rumahnya dibakar, harta bendanya dijarah, keluarganya semua ditawan, para serdadunya mau merajamnya, dalam situasi yang sangat kalut Alkitab berkata :”… Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” (“… but David Encouraged Himself in the Lord his God.”)

Di tengah kondisi dunia yang semakin sulit, kita perlu bersikap seperti Daud, membangun kepercayaan diri, membangun kekuatan diri pada Tuhan. Sakit hati, menangis, marah-marah tidak menyelesaikan masalah. Daud membangun kepercayaan diri dengan :

1. Beribadah kepada Tuhan
Ini adalah tindakan Daud yang pertama. Ia minta Imam Abyatar mengambil baju Efodnya (ay.7). Baju Efod adalah pakaian Iman untuk beribadah. Ini adalah kebiasaan Daud bila ia menghadapi kemelut, yaitu beribadah kepada Tuhan ( Maz 42 :6). Dalam ibadah ia menemukan kekuatan bagi dirinya ( Maz 27 :4,5). Beribadah adalah cara terbaik untuk membangun kekuatan diri dan iman. Orang Kristen yang mula-mula, harta mereka dirampas, mereka ditangkap dan dianiya dan kitab Kisah Rasul menceritakan dalam situasi yang terjepit dan sukar, mereka setia, tekun berkumpul beribadah bersama-sama. Ibadah menjadi gaya hidup mereka. Kita dinasehati untuk jangan undur atau lalai beribadah bersama-sama (Ibr 10:25.) Yesus berkata, dua – tiga orang berkumpul Dia ada (Mat 18 :20). Temukanlah kekuatan supranatural dalam Ibadah! Yesus hadir didalamnya. Ada kuasa yang dahsyat dalam ibadah, jangan mengabaikannya !

2.   Berdoa, bertanyakan Tuhan
Daud berdoa secara khusus (ay.8). Seni bertanya pada Tuhan dalam doa bagi setiap tindakan yang  akan dilakukan dalam menghadapi kemelut telah pudar dari kebanyakan orang. Manusia lebih condong mengandalkan kekuatan, kecerdasan kalkulasinya dan interaksi dengan sesama (pebisnis, pejabat, profesinal dsb) sebagai kuncinya. Tetapi Tuhan berkata semua itu adalah andalan yang sia-sia ( Maz 33:16,17). Jauh lebih baik berharap pada Tuhan dari pada manusia ( Maz 118: 7,8). Hanya dengan kuasa nama Tuhan Yesus kemenangan akan diperoleh (Maz 118:10-12). Jika anda sedang terhimpit oleh berbagai masalah berdoalah, carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam Roh (1 Kor 14:2; Yudas 20). Doakan secara khusus persoalan dan kebutuhan anda, tanyakanlah Tuhan apa  dan bagaimana tindakan anda. Anda pasti mendapatkan kekuatan dan keberanian dan oleh hikmat-Nya anda menemukan solusinya.

3.   Membaca Firman Tuhan.
Daud berkata: “ Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.” (Maz 119:92). “ Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu”(ay.98-100). Firman Allah menyegarkan hati dan jiwa, membangkitkan semangat dan harapan dan Daud menemukan kekuatan dan penghiburan sehingga imannya tidak melemah dalam kesulitan, sebaliknya ia memperoleh kemenangan dan berkat yang besar (Maz 19 :8-12). Keberanian, kekuatan untuk mengatasi semua rintangan datangnya dari Tuhan. (Maz 18: 30).

4.   Melawan musuh ( keadaan )
Banyak orang menyerah pada “keadaan”. Mereka menjadi letih, lemah dan frustrasi. Mereka kehilangan kekuatan, kepercayaan diri dan iman. Daud mengajarkan kita bagaimana membangun kekuatan, kepercayaan diri dan iman dalam berbagai himpitan masalah. Ia melawan kepahitan, kesedihan, kekecewaan dalam dirinya. Saya membayangkan ia berdiri di depan kaca sambil menunjuk dirinya, menepuk dadanya dan berkata pada dirinya: Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” ( 42:6) “… hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” ( 103:1-6). Jika anda sedang gundah gulana, katakanlah, “Hey, aku tidak  tawar hati ! Aku pemenang ! Aku sehat, kuat dan berhasil ! Hidupku diberkati!” Ucapkanlah kata-kata positif! Teruslah berkata-kata dengan iman. Daud menemukan kekuatan, kepercayaan diri dan keberanian melalui ibadah, doa dan janji Tuhan (FA). Ia bangkit mengejar, melawan musuhnya dan meraih kemenangan dan berkat yang sangat besar (ay 17-20). Mujizat  terjadi !

KUASA ROHANI


KUASA ROHANI (1 Korintus 12:1-11)


Ini salah satu jawaban Paulus atas pertanyaan orang Korintus. Melalui jawaban ini, Paulus ingin menyatakan bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi jika orang percaya hidup dalam kuasa Roh Kudus. Hidup Kristen dirancang untuk hidup secara adikodrati. Orang percaya hidup secara adikodrati karena : a. Kewargaannya. Ia adalah warga kerajaan Allah dan sifat dari kerajaan Allah terdiri dari Kuasa(1 Kor 4 : 20). b. Posisinya sebagai anak Allah, anak Raja. Sebagai anak Raja ia punya otoritas (Luk 10 19).  c. Pola hidup / gaya hidup yang ditetapkan baginya. Ia diwajibkan hidup oleh Iman ( Roma 1 : 18; 2 Kor 5 : 7), dan menghadapi segala sesuatu dengan kuasa Allah ( 2 Kor 10 : 4,5). d. Misinya. Ia diberi tugas besar untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan dilengkapi dengan kuasa untuk melaksanakannya (Mak 16 : 17,18). e. Tubuhnya dijadikan Rumah Roh Kudus. Allah berdiam di dalam dirinya oleh Roh Kudus (1 Kor. 3:16,17; 6 : 20; 1 Yoh 4 : 4). Itulah sebabnya Firman Allah berkata,ada kuasa yang dahsyat yang bekerja dalam diri orang percaya. Kuasa yang melampaui segala sesuatu yang ada (Ef 2:19 -22). Marilah kita lihat kuasa rohani yang bekerja bagi orang percaya.

1.  Tujuannya (Ay. 1-7).
Tujuan Tuhan memberikan Roh Kudus bagi umat-Nya. Pertama, untuk memuliakan Kristus. Tidak ada orang yang penuh dengan kuasa Roh Kudus mencerca dan menghina Tuhan Yesus. Sebab Roh Kudus diberikan untuk memuliakan Tuhan Yesus. Keduauntuk melayani, membangun tubuh Kristus. Hal ini dijelaskan panjang lebar dalam pasal 11: 12-14: 40. Jadi pemberian kuasa Roh Kudus bukan untuk memuliakan diri atau menyatakan keunggulan hidup rohani dari yang lain. Kuasa Roh Kudus adalah “karunia,” yang diberikan dan bekerja di dalam diri orang percaya atas kedaulatan dan kehendak Tuhan bukan berdasarkan keinginan kita ( ay.11).

Perlu diketahui, bahwa kualitas rohani tidak diukur dari kuasa atau karunia-karunia Roh yang ada pada seseorang, kualitas hidup rohani diukur dari buah Roh Kudus atau karakter Kristus yang ada pada seseorang. Ketigauntuk menjadikan kita saksi Tuhan yang efektif (Kis 1:8; Mark 16:16-18). Tidak takut dan pantang menyerah dalam iman, sanggup menghadapi dan mengatasi segala sesuatu ( Roma 8:31-39).

2.   Karunia Kuasa Roh Kudus (Ay. 8- 11)
Ada sembilan karunia Roh Kudus yang tersedia bagi semua orang percaya. Karunia-karunia ini dapat dibagi dalam tiga kategori. Pertama, karunia-karunia kuasa untuk mengenal / mengetahui secara supranatural : Hikmat, pengetahuan dan membedakan roh. Kuasa ini diberikan untuk menyingkap hal-hal yang tidak mungkin diketahui dengan kemampuan pikiran manusia. Banyak hal yang manusia tidak tahu dan pahami. Keterbatasan ini menyebabkan ia gampang keliru, tertipu dan disesatkan. Tuhan memberikan karunia ini agar kita tidak terjebak oleh tipuan apapun. Kedua, karunia-karunia kuasa untuk bertindak secara supranatural : Iman, mujizat, penyembuhan. Kuasa ini memberikan  kita keberanian, kekuatan dan kemampuan untuk bertindak pada masa-masa yang sulit dan genting. Ketika anda telah menemui jalan buntu dan tak punya lagi kekuatan atau cara untuk mengatasinya, Allah sanggup dan oleh kuasa-Nya anda pasti berhasil. Ketiga, karunia-karunia kuasa untuk berbicara secara supralami :Bernubuat, bahasa Roh, menafsirkan bahasa Roh. Karunia-karunia ini memampukan anda untuk berbicara dalam bahasa Allah, bahasa Firman,  bahasa positif, menerima pewahyuan dari Tuhan di tengah-tengah kepahitan dan kesedihan oleh berbagai kenyataan yang tidak menyenangkan. Anda akan dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan memuji dan menyembah serta beribadah kepada Tuhan. Roh Kudus akan memberi anda penyataan-penyataan yang adikodrati. Jika kita mempelajari kerja dari semua karunia ini (lain kesempatan kita akan membahas satu persatu), karunia-karunia ini bekerja untuk mengatasi setiap masalah dan kesulitan umat Tuhan. a. Memberikan jalan keluar dalam masalah apa saja. b. Menjadikan umat Tuhan sebagai pemenang. c. Menjadikan umat Tuhan sebagai saksi atas kebesaran TUHAN.

3.  Panggilan untuk hidup dalam kuasa Rohani
Kuasa ini diberikan untuk kebutuhan kita yang percaya dalam dunia ini. Di surga, kita tidak membutuhkan karunia-karunia kuasa Roh Kudus tersebut. Karunia-karunia Roh Kudus ini diberikan untuk kebutuhan kita di dunia ini sebagi anak-anak Tuhan. Itu sebabnya kita diminta untuk berusaha dan mengejar agar kita memiliki karunia-karunia tersebut ( 12:31;14:1,31). Sayangnya, kita lebih banyak berusaha dan mengejar harta duniawi dan kita mengabaikan harta ( karunia-karunia kuasa) surgawi / Roh Kudus. Tuhan Yesus berkata : “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya (harta surgawi/karunia2 Rohkudus) maka semuanya itu (harta duniawi) akan ditambahkan kepadamu” ( Mat.6:33).

Berjalan Mengikut Yesus


Berjalan Mengikut Yesus (Markus 10:28-30)


Kekristenan bukanlah sebuah agama atau suatu model pengajaran, tetapi kekristenan lebih kepada suatu gaya hidup yang berorientasi kepada satu pribadi yang bernama Yesus Kristus. Jika kita mengatakan bahwa hidup kita berorientasi kepada Kristus dan kita adalah pengikut-Nya maka kita wajib hidup sama seperti Kristus hidup (1 Yoh. 2:6). Banyak orang yang mengatakan bahwa dia adalah pengikut Yesus (Kristen) tetapi pada kenyataannya hidupnya bertolak belakang dengan hidup Kristus. Karena itu jika kita mengklaim diri kita adalah pengikut Yesus maka kita harus mengikuti jejak-jejak Yesus.

Lalu apa arti/makna sesungguhnya mengikut Yesus dan apa dampaknya bagi kita?

1. Arti  kata “Mengikut”
Arti kata mengikut dalam bahasa Indonesia adalah turut serta dengan seseorang, mengiring dan menyertai orang tersebut. Makna yang lain yang lebih dalam adalah memperhatikan gerak gerik seseorang, mempelajari gaya hidupnya dan meniru atau ikut melakukan sesuatu yang orang tersebut lakukan.
Dalam budaya Timur Tengah, seorang murid secara harafiah akan berada di belakang gurunya baik waktu berjalan maupun waktu menunggang keledai. Sangatlah tidak sopan bagi seorang murid untuk berjalan di sebelah gurunya apalagi berada di depan. Dan dalam pemikiran umat Israel di zaman Perjanjian Lama, mengikuti seseorang berarti mengiringi, menaati, mencintai, menyerahkan dan mengabdikan diri pada orang yang diikuti. Contoh Elisa (1 Raja 19:19-21).

Jadi jikalau kita mengatakan seseorang sedang mengikut Yesus maka itu berarti orang tersebut sedang mengabdikan dirinya dengan penuh penyerahan diri, kasih dan ketaatan kepada Yesus. Dia akan melakukan apa yang Yesus lakukan dan menjauhi apa yang Yesus tidak lakukan. Pernyataan Petrus dalam pembacaan kita (ayat 28: “Kami ini telah meninggalkansegala sesuatu dan mengikut Engkau!”) dilatarbelakangi oleh pemikiran seperti itu.

Menarik untuk disimak bahwa kata “meninggalkan” yang digunakan oleh Petrus ditulis dalam bahasa Yunani yang menggunakan keterangan waktu yang menunjuk kepada suatu perbuatan yang dilakukan sekali tetapi berlaku untuk selamanya. Sedangkan kata “mengikut” ditulis dengan menggunakan keterangan waktu yang menunjuk kepada suatu perbuatan yang dilakukan terus sebagai suatu proses yang panjang dan berlangsung terus. Petrus dan murid yang lain telah meninggalkan keluarga dan seluruh harta mereka dan tidak akan kembali lagi ke masa lalu mereka. Mereka akan terus mengikuti Yesus dan mengabdikan hidup mereka kepada Yesus.

Dalam pengabdian mereka itu, muncul sebuah pertanyaan di mana Petrus seolah-olah sedang berkata : kami sudah mengabdikan hidup kami sepenuhnya kepada-Mu lalu bagaimana dengan masa depan kami? Apa yang akan kami peroleh? (ayat 28: Mat 19:27). Yesus paham dengan pikiran Petrus dan mungkin saja murid2 yang lain. Kemudian Yesus menjawab dengan pernyataan2 yang mengandung pengharapan akan dampak atau akibat atau hasil mengikut Dia.

2.  Dampak / Hasil Mengikut Yesus
a.  Perubahan diri sendiri / kehidupan (ay. 29,30a).
Ketika kita mengikut Yesus, mungkin kita akan ditolak oleh keluarga kita, namun kita akan memperoleh keluarga yang baru yaitu keluarga Allah. Keluarga yang semula diartikan sempit, kini memperoleh pengertian yang luas: ayah ibu yang baru, saudara2 yg baru, anak yang baru. Dan hal ini terjadi / digenapi dalam gereja mula-mula.
Perubahan lain, orientasi hidup yang dulunya kepada diri sendiri beralih ke kalangan yang lebih luas di luar diri sendiri. Kecenderungan memiliki dan mengumpulkan harta menjadi kesediaan melepas harta. Yang kita kejar bukan lagi kesuksesan melainkan ketaatan. Dan yang mendominasi pikiran kita bukan lagi kehendak kita melainkan kehendak Bapa.

b.   Kesulitan / Masalah / Penganiayaan (ay. 30b)
 Yesus selama di dunia ini tidak pernah mengumbar janji-janji manis dan kemudahan bagi setiap orang yang mengikut Dia. Sebaliknya, Yesus malah menunjukkan akibat-akibat yang akan diterima. Berkali-kali secara terang-terangan Yesus menegaskan bahwa jalan hidupnya berisi banyak penderitaan. Itu pulalah yang akan dialami setiap orang yang mengikut Dia.
 Berjalan di belakang Yesus tidak hanya ada senyum dan tawa tetapi akan ada lebih banyak air mata, bahkan terkadang ada ketakutan dan rasa was-was. Yesus tidak pernah mengiming-imingi pengikut-pengikut-Nya dengan hal-hal yang indah saja atau keuntungan-keuntungan besar, sebaliknya Dia mengatakan: pengikut-Nya akan dibenci (Mat. 10:22); pengikut-Nya harus menjual harta dan membagi-bagikannya kepada orang lain (Mrk 10:21) dan bahwa Yesus selama hidup di dunia ini Dia hidup dalam penderitaan (Luk. 9:58). Namun setelah berhasil melewati semua masalah dan penderitaan, Yesus menjanjikan sesuatu yang sangat indah.

c.   Hidup Kekal (ay. 30 c)
 Inilah keuntungan besar dan janji yang sangat indah yang tidak ada bandingnya yang didapatkan oleh setiap pengikut Yesus. Kehidupan kekal dan kebahagiaan kekal bersama dengan Yesus di surga. Hidup kita di dunia ini bukanlah tujuan akhir kita karena tujuan akhir hidup kita adalah kekekalan. Kita tidak berasal dari dunia karena kewargaan kita yang sebenarnya adalah surga kekal.

Marilah kita terus menjadi pengikut Kristus yang sejati. Itu semua bukan tanpa resiko tetapi jangan takut Yesus berjanji untuk terus menyertai kita sampai akhir zaman.