Rabu, 30 Juli 2014

PENGAMPUNAN (Matius 18 : 21-35)

PENGAMPUNAN (Matius 18 : 21-35)

Injil Matius pasal 18 berisi hukum-hukum praktis tentang hidup jemaat. Bagaimana seharusnya jemaat bersikap dan memperlakukan sesama seiman. Roh Kudus menuntun Matius untuk mengumpulkan ucapan–ucapan (pengajaran) Yesus di berbagai tempat dan kesempatan lalu menyusunnya menjadi satu rangkaian pengajaran yang berfokus pada kehidupan jemaat yang dikehendaki Tuhan. Jika kita memperhatikan setting dari pengajaran yang disusun Matius di sini, alur pemikirannya adalah berhubungan dengan pengampunan. Inti atau konsep kebenaran dari Yesus yang terdapat disini adalah :


1. Kebesaran sesorang dalam Kerajaan Allah berbeda dengan kebesaran dalam dunia ini(ayat. 1-5).
Orang besar bagi Allah ditentukan oleh sikap hati seseorang,  yakni kerendahan hati dan ketergantungannya pada Tuhan.
Untuk membuat kebenaran ini hidup dan dipahami dengan mudah oleh pendengar-Nya, Yesus mengambil contoh seorang anak kecil (Yun, paidion, seorang anak di bawah umur 8 tahun). Perlu diketahui, bahwa issue “terbesar” dalam masyarakat Yahudi sangat penting. Mereka ketat denganukuran strata sosial. Mereka membedakan pandai dan bodoh, kaya dan miskin, tuan dan budak. Dalam acara-acara Yahudi tempat duduk diatur berdasarkan posisi yang terbesar. Itulah sebabnya Yesus berkata, kalau engkau diundang ke pesta jangan duduk di depan nanti datang orang yang lebih dari anda, akhirnya anda diminta duduk di belakang. Karena issue “terbesar”, berpengaruh bagi orang Yahudi, murid-murid Yesuspun berdebat “siapa yang terbesar di antara mereka” (Mark 9:34).


2. Penyesatan (Yun, skandalon) atau kesalahan pasti ada, tidak dapat dihindari (ayat 6-11).
Tapi kita semua diminta agar tidak menjadi penyebab dari orang berbuat salah. Kita dinasehati agar jangan mendatangkan kesalahan, kesesatan  “menganggap rendah seorang dari anak kecil.” Kata “anak kecil’ di ayat 6, 10, 14, (Yunani mikroi”) berarti orang kecil, orang dewasa yang dianggap kecil karena miskin, bodoh. NIV menterjemahkan “little ones”. Tuhan Yesus mengatakan, orang kecil itu punya malaekat penjaga yang selalu menghadap Tuhan. Biasanya hanya orang penting saja (punya jabatan khusus) yang punya akses menghadap raja. Mungkin saja malaikat penjaga orang kecil adalah malikat yang punya kedudukan penting dalam surga. Jadi hati-hati, jangan menghina orang kecil.


3. Hati Bapa adalah hati yang merangkul, mencari dan menyelamatkan yang terhilang, tersesat atau salah jalan (ayat. 12-14).
Bapa di surga tidak menghendaki satu jiwa terhilang, sekalipun dia seorang yamg kecil menurutanggapan dunia. Tugas kita adalah tugas penyelamatan siapapun dan bagaimanapun buruknya seseorang, kita harus punya hati Bapa Surgawi. Setiap jiwa sama nilainya bagi Tuhan, baginya Kristus telah mati. Jangan berbuat dosa mengabaikan pelayanan kepada orang kecil atau arogan secara rohani. Tuhan memanggil kita bukan untuk mengkritisi, menilai, menghakimi, mempersalahkan orang yang bersalah melainkan menyelamatkannya. Tuhan mengajar kita agar yang lebih mulia mau memberi dan membagi kemuliaan pada yang kurang mulia. 1 Kor 12 : 21-26. baca.


4. Yesus mengajar kita bersikap persuasif dan konstruktif terhadap orang yang bersalah(ayat 14-20).
Bagaimanapun pendekatan itu, bergantung kepada sikap hati anda (ay. 3-5 ).  Karena anda punya otoritas “mengikat” dan “melepaskan”. Menarik untuk memperhatikan kata “pengampunan, mengampuni” dalam Alkitab berasal dari kata Yunani“Aphiemi” (Ingg. Forgiveness),  berarti melepas (tali) ikatan, membiarkan pergi, membiarkan pergi bebas. Jadi sekalipun ada pendekatan formal 1,2,3 namun pendekatan formal tersebut bukanlah batasan. Perhatikan kata Yesus: jika ia tidak mau mendengarkan, “pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, alias belum bertobat. Jadi tugas kita melayani dan membuat ia bertobat bukan membuang atau menyisihkannya.

Pertanyaan Petrus dan jawaban Yesus yang disertai dengan perumpaan, memperjelas dan memberikan penegasan tentang keberanan-kebenaran yang diajarkan di atas, yakni, prinsippengampunan tanpa batas.  Pengampunan tidak diukur dari besar, luas, dalam, lebar dan beratnya kesalahan seseorang. Pengampunan melampaui segala-galanya. Petrus mengajukan pertanyaan pada Yesus, mungkin Petrus terpikir dengan pernyataan Yesus dalam Luk 17:4 dan ia ingin mendapat penegasan kembali. Tetapi  jawaban Yesus diluar dugaan : 70 x 7 = 490. Wow, mungkinkah ada orang yang berbuat salah sebanyak ini dalam sehari (kalau konteksnya Luk 17:4) ? Untuk meredahkan ketegangan Petrus, Yesus menceritakan sebuah kisah tentang seorang Raja dengan hambanya yang berhutang 10 ribu talenta. Satu talenta sama dengan 6000 dinar. Satu dinar adalah upah sehari waktu itu. Kalau sekarang upah pekerja Rp 25.000 / hari maka 1 talenta sama dengan  Rp. 150 juta. 10.000 X 150.000.000 = Rp ………. hitung sendiri ..........

Perumpamaan Yesus memberikan pesan penting tentang pengampunan dan mengampuni. Kita mempunyai Raja yang punya belas kasihan yang besar. Betapun besarnya kesalahan kita, kalau kita datang dan mengaku pada-Nya pasti kita menerima pengampuanNya. Seperti hamba yang berhutang 10.000 talenta. Namun ada kisah sedih dalam perumpaan ini. Orang yang berhutang besar setelah mendapat pengampunan bertemu dengan “hamba lain” yang berhutang kepadanya hanya 100 dinar namun justru ditangkap dan dipenjarakannya tanpa belas kasihan. Raja mengetahuinya dan menganggap ini kejahatan besar ….. Perhatikan apa kata Raja: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Yesus adalah Raja dalam perumpamaan ini. Seluruh hidup Yesus menyatakan belas kasihan kepada orang berdosa. Dia datang mengumumkan kemurahan hati Bapa yang mengampuni dosa dan kesalahan manusia. “Maz. 103:12: “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” Yesus datang memberikan pengampunan bagi yang berdosa.

Orang membawa kepada-Nya perempuan yang berdosa minta supaya dilontar dengan batu. Yesus menjawab, siapa di antara kalian yang tidak  berbuat dosa silahkan melempari wanita ini. Tak seorangpun yang berani sebab semua berbuat dosa. Yesus pun mengampuni wanita ini. Tujuan Yesus datang di dunia ini mencari dan menyelamatkan yang sesat bukan untuk menghukum. Dia datang mengadakan pendamaian atas dosa-dosa manusia, Dia menyerahkan diri-Nya serta mencurahkan darah-Nya untuk menebus, menanggung dosa manusia. Dan setelah bangkit dari antara orang mati, Dia mempercayakan tugas penting bagi murid-murid-Nya untuk memberitakan kabar pengampunan di dalam nama-Nya (Luk 24:47). Yesus menegaskan, untuk menjadi murid-Nya kita harus memiliki hati Bapa, hati Kristus. Bersedia mengampuni setiap orang (Mat. 18:25). Kita diselamatkan dan diutus bukan untuk mempersalahkan yang salah, menghukum, membuang, menyisihkan yang bersalah tetapi mencari, menyelamatkan dan memberikan pengampunan bagi mereka. Jadikan pengampunan dan mengampuni sebagai misi anda! Itu adalah amanat Kristus. Milikilah hati Kristus, hati yang mengampuni: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Demikian doa Yesus di salib. Yesus mengajar murid-muridNya berdoa ...ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah pada kami...” (Mat. 6:12; baca Markus 11 :25,26). Akhirnya, Yakobus 5 :19,20 berkata :“Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa”.

BERKAT DI BALIK KEMELUT (Roma 8:29-30)

BERKAT DI BALIK KEMELUT (Roma 8:29-30)

Setelah kota London terbakar, raja Inggris menugaskan seorang arsitek besar bernama Christofer Ramm membangun kembali gereja St. Paul yang megah. Ukiran yang besar dan bagus dipasang kira-kira 8 meter tingginya dari tanah. Ada seorang yang mengukir salah satu hiasan di situ dan berdiri pada tempat yang tinggi dari gereja itu. Ia sedang memandang hasil ukirannya yang baru saja selesai. Tetapi secara tak sadar, ia memandangi ukiran itu sambil berjalan mundur setapak demi setapak sampai berada di ujung papan pembatas. Jika ia mundur setapak lagi, ia pasti jatuh dan mati. Seorang rekannya melihat bahwa posisi temannya sangat berbahaya. Dia bermaksud menolong, tetapi jika ia berteriak memperingatkan kemungkinan teriakannya akan membuat rekannya malah jatuh. Akhirnya tidak ada cara lain selain ia mengambil kuas seorang yang sedang mengecat dinding dan merusak ukiran tersebut. Pada waktu ukiran itu kena cat, si pengukir amat marah dan langsung menghampiri rekannya yang merusak ukirannya dan bermaksud memukulnya. Tetapi rekannya itu menunjukkan tempat si pengukir itu berdiri. Akhirnya, si pengukir sadar bahwa rekannya telah menyelamatkan nyawanya.

Demikian juga dengan Allah kita. Kadang Ia “merusak” gambaran yang kita idam-idamkan, mengambil orang yang kita cintai dan mengizinkan hal-hal yang sulit dalam hidup kita. Cara Tuhan seringkali melawan logika dan cara pikir manusia, tatapi justru cara itu adalah cara terbaik yang mendatangkan kebaikan buat kita. Dari teks pembacaan kita dalam Roma 8:26-30, ada kebenaran penting yang dapat kita ambil yaitu bahwa Allah mempunyai rencana yang mendatangkan kebaikan dalam setiap kemelut hidup orang-orang yang mengasihi-Nya. Pada ayat-ayat sebelumnya kita menemukan bahwa semua makhluk berada dalam kondisi mengeluh dan sakit seperti sakit bersalin (ay. 18). Inilah gambaran kondisi kemelut hidup yang harus dilalui oleh segala makhluk, temasuk kita yang telah menerima karunia Allah.

Dalam ayat 26-30, Paulus memberitahukan bahwa Allah masih mengontrol kehidupan anak-anak-Nya untuk mendatangkan kebaikan. Dalam menanggapi kata kebaikan diri, kita cenderung menafsirkan dari sudut pandang kesenangan jasmani (bebas dari penyakit, punya uang cukup, dll). Padahal justru dalam konteks ini Paulus menguraikan secara tepat dalam ayat 29, yaitu untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Keserupaan dengan Kristuslah yang dimaksud dengan kebaikan di sini. Dalam 1 Yoh. 2:6 dikatakan: “Barang siapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

Bagi Paulus, segala sesuatu yang menjadikannya lebih menyerupai Kristus itu baik. Tanpa memperhatikan dampak terhadap kenyamanan ataupun kesenangannya. Kenyataannya, keserupaan dengan Kristus tidak selamanya berarti hidup makmur di tengah-tengah kesenangan materi. Karena itu Paulus menekankan berita penting ini dengan satu kalimat: Allah mempunyai rencana yang mendatangkan kebaikan dalam setiap kemelut hidup orang-orang yang mengasihi-Nya.
               
Bagaimana cara Allah mendatangkan kebaikan dalam setiap kemelut?

1. Dengan bekerja secara UTUH dalam setiap kemelut hidup orang-orang yang mengasihi-Nya.
Keutuhan pekerjaan Allah itu tersirat dalam anak kalimat : ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu.’ Rasul Paulus menyatakan segala hal sama dengan penderitaan zaman sekarang, misalnya sakit, kehilangan orang yang dikasihi, harapan tidak tercapai, adalah satu paket yang Allah izinkan terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Peristiwa-peristiwa dalam hidup kita tidaklah terlepas satu dengan yang lainnya. Semuanya serasi, jalin menjalin untuk membentuk keserupaan kita dengan Kristus. Ibarat seorang pelukis yang mencampur berbagai warna untuk menghasilkan lukisan yagn indah. Segala sesuatu diizinkan dan direncanakan Allah untuk tujuan-tujuan yang bijaksana. Tidak sedetikpun ia meninggalkan campur tangan-Nya dalam hidup kita. Pada ayat 26-27, Paulus menguraikan mengenai pekerjaan Roh Kudus dalam hidup orang yang mengasihi Tuhan.
  
2. Dengan bekerja secara AKTIF dalam setiap kemelut hidup orang-orang percaya yang mengasihi-Nya
Orang-orang yang mengasihi Allah akan melihat bahwa Allah selalu sibuk bekerja dalam segala keadaan bahkan di dalam peristiwa-peristiwa yang paling menyakitkan hati kita. Misalnya, pengalaman hidup Yusuf. Dia tidak bersalah tetapi harus dipenjara untuk sesuatu yang tidak ia lakukan. Seandainya Yusuf dibela ketika dianiaya oleh saudara-saudaranya, dia tidak akan jadi penguasa di Mesir. Andai Yusuf dibela ketika difitnah istri Potifar, dia akan tetap jadi budak. Tetapi Allah mengizinkan semua kejadian tersebut. Memang menyakitkan, tapi itu semua untuk kebaikan Yusuf dan bangsa Israel.

Allah mempunyai rencana yang mendatangkan kebaikan. Rencana ini berlaku terbatas, tidak untuk umum. HANYA bagi mereka yang mengasihi Allah dan yang dipanggil sesuai rencana-Nya atau dalam terjemahan asli :  “orang-orang yang mengasihi Allah yang menurut rencana Allah adalah orang-orang terpanggil. Roma 8:28 ini dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Tidak ada yang dapat merugikan mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Sebaliknya, segala hal yang menimpa mereka akan membantu mereka untuk mencapai keselamatan karena hal itu meneguhkan iman dan mengikat mereka erat-erat pada Kristus. Ialah yang membuat segala sesuatu mendatangkan kebaikan karena Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu.

DICARI: Orang yang Sungguh-sungguh Mengasihi Yesus (Yohanes 21:15-25)

DICARI: Orag yang Sungguh-sungguh Mengasihi Yesus (Yohanes 21:15-25

DICARI: Orang yang Sungguh-sungguh Mengasihi Yesus (Yohanes 21:15-25)n


Ada banyak lowongan pekerjaan yang tersedia dalam perusahaan Allah. Jika perusahaan di dunia membutuhkan pekerja dengan sederet daftar kriteria, Allah hanya mencari orang-orang dengan satu kriteria, yaitu “Sungguh-sungguh mengasihi Yesus.”  Dalam teks ini, Yesus bertanya kepada Petrus sebayak 3 kali untuk mengecek kesungguhan hatinya dalam mengasihi Yesus. Pertanyaan ini sebenarnya bukan saja ditujukan kepada Petrus tetapi kepada semua murid yang lain dan kita semua, orang-orang yang telah dikasihi-Nya.

Yesus menghendaki kasih kita kepada-Nya adalah kasih yang penuh, kasih yang utuh dan tidak terbagi. Kasih yang bagaimanakah itu?

1. Kasih yang Mengandung Tanggung Jawab (ay. 15-17)

Setelah Petrus menyatakan bahwa ia mengasihi Yesus, kemudian Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” Kasih yang abstrak harus diwujudkan dengan sikap yang bertanggung jawab dalam menunaikan tugas pelayanan. Tuhan mempercayakan pekerjaan-pekerjaan khusus kepada orang-orang yang mengasihi Dia. Masing-masing dengan tugasnya sendiri-sendiri.

Ketika Petrus bertanya kepada Yesus tentang Yohanes pada ayat 20-22, Yesus menjawab, tidak usah menghiraukan tugas yang diberikan kepada orang lain. Yang harus dilakukan Petrus adalah melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Dan Petrus telah membuktikannya sejak dia dipulihkan Tuhan sampai akhir hayatnya. Dia menjadi martir karena melakukan tugasnya.

Apakah kita dapat membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam menunaikan tugas pelayanan yang dipercayakan kepada kita? Jikalau kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita dapat melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

2. Kasih yang Mengandung Pengorbanan (ay.18-19)

Yesus sedang berkata tentang konsekwensi yang akan diterima Petrus sebagai akibat dari tindakan mengasihi Tuhannya dengan sungguh-sungguh, yaitu salib atau penderitaan. Memang kasih belum menjadi kasih yang sesungguhnya sampai ada korban yang diberikan sebagai bukti kasih itu sendiri. Jika kita mengatakan kita mengasihi seseorang, sudah pasti kita akan berkorban untuk orang tersebut.

Sebagaimana perkataan Tuhan Yesus, begitu jugalah akhir hidup Petrus. Ia telah membuktikan kata-katanya sendiri kepada Tuhannya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”  Sebelum hidupnya berakhir, ia telah menasihati dan mendorong orang-orang percaya yang digembalakannya agar bertahan dan setia dalam penderitaan yang mereka alami karena Kristus. Ia mendorong kita semua untuk mengikuti teladan Kristus yang telah membuktikan kasih-Nya kepada manusia dengan memikul salib, menanggung hukuman dosa yang seharusnya ditanggung oleh kita sendiri, orang-orang yang berdosa.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah buktinya kita mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh? Petrus dan rekan-rekannya, orang-orang di China dan di tempat-tempat lain telah membuktikan kasih mereka, mengorbankan hidup mereka karena Kristus, bagaimana dengan kita? Yesus mencari orang yang mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh.

“Kita dapat melayani Dia tanpa mengasihi Dia,
tetapi kita tidak dapat mengasihi Dia
tanpa melayani Dia.”

MENGUBUR MENTAL FARISI

MENGUBUR MENTAL FARISI

Bahan Bacaan Renungan Harian Kristen hari ini :Lukas15:1-7

Perumpamaan tentang domba yang hilang dalam nas i­ni adalah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus sendiri. Perumpamaan ini disampaikan-Nya dalam ra­ngka menjawab sungutan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, karena Yesus menerima dan bergaul dengan oang berdosa. Saudara, hampir setiap kali kita membaca tentang orang-orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Alkitab, selalu kita memperoleh kesan yang ne­gatif. Negatif, karena sikap-sikap yang mereka tunjukan. Melalui nas ini kita dapat melihat sifat-sifat mereka yang negatif itu.

Pertama:  mereka selalu menganggap dirinya benar suci dan istimewa. Yang selalu harus dihargai dan dihormati. Ingin dihargai dan dihormati itu sendi­ri sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Setiap orang wajar menginginkannya. Wajar untuk mendapatkannya. Tapi masalahnya, bila hanya ingin dihargai dan dihormati tetapi tidak perrnah menghargai orang lain! Mengejar kebenaran atau kesucian  itu juga seharusnya dilakukan setiap orang. Bahkan hal tersebut justru dianjurkan oleh Tuhan. Tapi masalahnya, apabila selalu menganggap diri benar, menganggap diri sendirilah yang suci lalu menjadi alat untuk menghakimi bahwa orang lain selalu salah, selalu tidak benar?

Wah...wah...wah...Celakanya lagi bila sampai merasa diri tidak pernah salah, tidak pernah keliru, tidak pernah berdosa. Waduh...ini pas­ti kesombongan namanya. Kemunafikan istilahnya! Jika mental Farisi dan Ahli Taurat semacam ini sampai melanda persekutuan gereja, tentu tidak mungkin ada persekutuan yang balk, tidak mungkin adanya saling mengasihi. Yang ada tentulah saling membenarkan diri, saling menyalahkan, saling merasa berharga, dan seterusnya...

Karena itu marilah kita mengoreksi diri masing-ma­sing, kita bercermin dari terang kebenaran firman Tuhan ini, supaya jika ada mental Farisi dan Ahli Taurat menghinggapi persekutuan kita, akan kita kubur dalam-dalam. Dan jika ada, maka juga langkah paling bijaksana yang harus dilakukan adalah "per­tobatan". Bertobat berarti kita bersedia menanggalkannya, lalu menguburnya dalam-dalam kemudian mengarahkan hidup kita pada jalan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Memang pada dasarnya tidak ada seorang manusia juapun di dunia ini (kecuali Yesus) yang tidak pernah keliru, tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi itu tidak mengapa, andai ada pertobatan. Yesus sendiri berkata: "Demikian juga akan ada sukacita di sorga karma satu prang berdosa yang bertobat, lebih daripada eukacita karma sembila puluh sembilan p­rang benar yang tidak memerlukan pertobatan" (ay.7).

Kedua: Mereka adalah orang-orang yang selalu mencari kesalahan orang lain, tatapi mereka sendiri tidak pernah mengakui dan menyadari kesalahan, kelemahan dan dosa-dosa mereka. Selalu suka mencari kelemahan dan kesalahan orang lain sebenarnya adalah ungkapan perasaan hati terselubung yang dihiasi sifat dengki dan kebencian secara menyamar. Sifat yang  pada dasarnya untuk menutupi kekurangan diri sendiri. Sifat yang pada dasarnya untuk menutupi ke kurangan diri sendiri. Takut karena perasaan tersi­sih, tersaingi atau merasa kalah dari orang lain.

Saudara, apabila kita mencari kesalahan orang lain, ya memang selalu ada. Semakin kita mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, ya tentu semakin banyak yang kita dapatkan. Andaikata hal demikian kita lakukan, sebaiknya kita menyadari, apakah saya juga tidak memi­liki kekurangan-kekurangan, kesalahan-kesalahan atau juga dosa-dosa? Jangan-jangan kesalahan, kelemahan dan dosa kitea jauh lebih besar dari orang lain! Ibaratkan telunjuk kita, jika menunjuk ke arah porang lain, makea pada saat yang sama kits harus me­nyadari bahwa masih ada tiga bahkan empat jari yang lain menunjuk ke arah diri kita.

Sebab itu saudara, baiklah berdasarkan kebenaran firman Tuhan ini kita diingatkan supaya menjalani hidup secara baik dan positif. Tidak terlalu suka mencari kelemahan dan kesalahan orang lain. Orang dapat menghargai kita sebenarnya juga tergantung dari cara kita menghargai orang lain. Orang menjadi senang itu pun tergantung dari apa yang kita laku­kan sehingga orang menjadi senang.

Seorang yang benar-benar rendah hati memang sulit ditemukan. Namun tentunya Tuhan menyenangi orang  yang rendah hati. Booker T.Washington, seorang pen­didik negro yang terkenal dari Institut Tukegee me­rupakan contoh yang baik untuk kebenaran ini. Tentunya yang perlu kita tiru. Tidak lama setelah ia menjabat presiden dari Institut Tukegee di Alabama, ia berjalan-jalan di pinggir kota. Seorang wanita kulit putih tiba-tiba menghentikannya. Karena tidak mengenal tuan Washington, maka wanita yang kaya ini menawarkan apakah laki-laki negro itu mau menda­patkan uang dengan memotongkan kayu untuknya. Sete­lah berfikir bahwa tak ada urusan yang mendesak, maka Prof.Washington tersenyum dan menggulung lengan bajunya lalu mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta.

Setelah selesai membawa kayu-kayu itu ke dalam ru­mah dan meletakkannya di dekat perapian. Seorang gadis kecil mengenalnya dan kemudian mengatakan kepada wanita itu. Keesokan harinya wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kuntor tuan Washington dan meminta  maaf. "Tak apa-apa, nyonya", jawabnya, "Adakalanya saya menyukai pekerjaan kasar, disamping itu sungguh menyenangkan dapat menolong seorang teman", lanjutnya.

Wanita tadi dengan hangat menjabat tangan tuan Washington dan memberikan pujian buat perilakunya yang rendah hati. Beberapa waktu kemudian wanita tadi menyatakan penghormatannya dengan ikut menyumbang be­ribu-ribu dolar untuk Institut Tukegee. Alkitab berkata; "Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati menerima pujian" (Amsal. 29:23). Saudara, hanya de­ngan kerendahan hati maka kasih dapat dilakukan. Dengan kerendahan hati di situlah ketinggian dan kea­gungan kita selaku pengikut-pengikut Yesus. AMIN

KEHINAAN SANG JURUSELAMAT THE SAVIOUR’S SHAME

KEHINAAN SANG JURUSELAMAT

THE SAVIOUR’S SHAME
“Yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).

Khotbah ini diadaptasi dari hanya satu poin dari tiga poin khotbah Spurgeon, “Rajanya Para Pengkhotbah.” Kiranya khotbah ini memberkati Anda!
Saya selalu bertanya-tanya mengapa kebanyakan pengkhotbah modern tidak berbicara tentang penderitaan Kristus pada hari Minggu menjelang Paskah. Mereka terus melanjutkan seri eksposisi mereka dan berbicara tentang motivasi sampai pada Minggu Paskah. Kemudian, tiba-tiba, entah dari mana, mereka berbicara tentang Yesus yang bangkit dari kubur!

Dr. Michael Horton menunjukkan bahwa banyak pendeta injili bahkan tidak berkhotbah tentang kebangkitan Yesus pada minggu Paskah! Dia menceritakan tentang seorang teolog liberal yang sedang mengunjungi sebuah gereja injili besar. Dia pikir dia akan mendengar Injil. Sebaliknya ia mendengar sebuah khotbah tentang “bagaimana Yesus memberi kita kekuatan untuk mengatasi tantangan-tantangan kita.” Lalu Dr. Horton menceritakan tentang seorang teolog Metodis liberal yang pergi ke gereja lainnya yang katanya “percaya Alkitab” dimana “khotbah telah menjadi sesuatu tentang bagaimana Yesus mengatasi kemunduran-Nya dan demikian juga halnya dengan kita.” Lalu profesor Methodist itu mengatakan bahwa pengalaman itu menegaskan pemikirannya bahwa orang-orang yang katanya percaya Alkitab sama seperti kaum liberal untuk berbicara tentang “psikologi populer, politik, atau moralisme daripada berbicara tentang Injil” (Michael Horton, Ph.D., Christless Christianity: The Alternative Gospel of the American Church, Baker Books, 2008, hlm. 29, 30).
Hari ini ada sangat sedikit khotbah tentang penderitaan dan kematian Kristus. Alasan utamanya adalah para pengkhotbah berpikir bahwa semua orang yang datang ke gereja mereka adalah orang yang sudah Kristen - dan karena itu tidak perlu mendengar tentang penderitaan Kristus lagi. Itu adalah kesalahan yang sama dengan gereja-gereja Jerman yang telah jatuh pada permulaan abad kesembilan belas. Lewis O. Brastow mengatakan bahwa pemberitaan firman di Jerman pada periode itu terus menuju kepada pemikiran yang salah dengan berpikir bahwa setiap orang yang menghadiri gereja mereka telah diselamatkan. Dr. Brastow berkata, “Anggota jemaat yang telah dibaptis diasumsikan sebagai jemaat yang telah menjadi Kristen dan harus dianggap seperti itu... Ini mungkin sebagian yang menjelaskan ketidakefektifan relatif khotbah gereja Jerman” (Representative Modern Preachers, Macmillan, 1904, hlm. 11). Kebanyakan pengkhotbah Baptis hari ini berasumsi bahwa anggota jemaat mereka sudah Kristen, sehingga tidak perlu lagi berkhotbah tentang penderitaan dan kematian Kristus. Saya yakin ini adalah hasil dari gaya berkhotbah ayat per ayat yang sangat lemah di gereja-gereja kita.
Saya juga berpikir bahwa orang yang telah diselamatkan juga masih perlu mendengar khotbah tentang penderitaan Kristus. Rasul Petrus berkata,
“Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (I Petrus 2:21).
Banyak orang di gereja-gereja kita tidak bersedia untuk menjalani penderitaan setiap hari. Mereka bahkan tidak mau datang ke kebaktian Minggu malam atau pertemuan doa pertengahan minggu. Salah satu alasan harus menjadi kenyataan bahwa mereka belum diingatkan tentang penderitaan Kristus - yang Rasul Petrus katakan itu sebagai “teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Seseorang mengeluh kepada saya bahwa ia harus mengendari mobil empat puluh menit setiap mau datang ke gereja. Saya mengatakan kepadanya bahwa ini akan baik untuknya. Karena, Kristus “telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Kita hanya bisa menjadi murid yang kuat dengan melewati penderitaan bagi Kristus, seperti yang dikatakan dalam Roma 5:3-5. Hal ini membawa kita kembali ke ayat kita, yang mengatakan kepada kita tentang penderitaan dan kehinaan yang Kristus alami untuk menyelamatkan kita.
“Yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).
Saya mengangkat kata-kata “dengan mengabaikan kehinaan” malam ini. Kata Yunani yang diterjemahkan “merendahkan” berarti “tidak menganggap” atau “tidak menghargai.” Ellicott memberitahu kita, “Arti harfiah dari kata ini adalah sangat dipaksa, tekun memikul, kehinaan karena kematian seperti itu sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Charles John Ellicott, editor, Ellicott’s Commentary on the Whole Bible, vol. VIII, Zondervan Publishing House, n.d., hlm. 336; catatan atas Ibrani 12:2).
Inilah tujuan saya malam ini untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Yesus menderita dalam kehinaan. Betapa itu adalah hal yang mengerikan di mana Yesus harus mengalami begitu banyak kehinaan pada hari itu ketika Dia menderita untuk menyelamatkan kita! Joseph Hart memahami hal ini. Dia mengatakan,
Lihat betapa tenangnya Yesus berdiri,
   Terhina di tempat yang sangat mengerikan ini!
Orang-orang berdosa telah membelenggu tangan Yang Mahakuasa
   Dan meludahi wajah Pencipta mereka
(“His Passion” oleh Joseph Hart, 1712-1768; altered by the Pastor).
Demi kebaikan kita, dan demi keselamatan kita, Yesus mengalami kehinaan dalam empat cara.
I. Pertama, pikirkan tentang tuduhan memalukan melawan Yesus.
Dia tidak mengenal dosa. Dia tidak melakukan kesalahan. Bahkan Pilatus, gubernur Romawi yang menyalibkan-Nya, berkata demikian. Kata Pilatus kepada para penuduh-Nya, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini.” (Lukas 23:4). “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya” (Yohanes 18:38). Namun Yesus didakwa dengan melakukan dosa yang paling buruk. Ia dihukum oleh Sanhedrin karena dosa penghujatan. Bisakah Dia menghujat Allah? Dia yang berseru kepada Allah ketika Dia berpeluhkan berdarah, “Ya Bapa-Ku… bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Tidak, Yesus tidak pernah menghujat Bapa-Nya, Allah. Karena itu adalah karakter-Nya sehingga Dia merasakan sengatan yang sangat memalukan karena tuduhan ini.
Selanjutnya mereka menuduh-Nya melakukan pengkhianatan. Mereka mengatakan bahwa Dia adalah seorang pengkhianat, yang menentang kaisar Romawi. Mereka mengatakan bahwa Dia memprovokasi rakyat dengan mengatakan kepada mereka bahwa Dia adalah seorang raja. Tentu saja ia benar-benar tidak bersalah. Ketika orang-orang mencoba untuk mendesak Dia menjadi raja mereka, Ia meninggalkan mereka dan pergi ke padang gurun untuk berdoa. Dia mengatakan kepada Pilatus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” (Yohanes 18:36). Dia tidak akan pernah memimpin pemberontakan melawan pemerintah. Namun mereka menuduh-Nya demikian.
II. Kedua, pikirkan tentang ejekan memalukan yang Yesus tanggung.
Dia juga mengalami pengejekan yang memalukan. Dia ditelanjangi oleh para tentara. Tubuhnya ditelanjangi dua kali. Meskipun para seniman melukis-Nya dengan cawat di kayu Salib, sesungguhnya Dia disalibkan dalam keadaan ditelanjangi bulat. Dia tidak memiliki apa-apa untuk menyembunyikan tubuh telanjang-Nya dari tatapan mata dan ejekan mulut kerumunan orang fasik itu. Mereka mengundi jubah-Nya saat Dia tidak mempunyai apa-apa untuk menutupi rasa malu ketelanjangan-Nya di kayu Salib.
Mereka juga mengejek sifat-Nya sebagai Anak Allah. Mereka berkata, “Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu” (Matius 27:40). Mereka berteriak kepada-Nya,
“Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah. Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga” (Matius 27:43-44).
Ia tidak berkata apapun ketika mereka mengejek Dia yang begitu memalukan – karena Ia “dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib” (Ibrani 12:2).
Lagi, mereka mengolok-olok Dia dan menertawakan-Nya untuk mempermalukan Dia sebagai raja Israel. Dia telah menjadi raja mereka, tetapi mereka membenci-Nya, menertawakan-Nya, dan mempermalukan Dia. Dia adalah Raja segala raja dan Tuhan segala Tuhan. Dia bisa saja memanggil ribuan malaikat turun untuk membalas dan menghancurkan mereka semua. Dia bisa berkata dan tanah di bawah kaki mereka akan terbuka, dan mereka akan ditelan “hidup-hidup ke dunia orang mati” bersama dengan Korah, yang berbicara menentang Musa, karena mereka berbicara menentang Kristus (Bilangan 16:33). Dia bisa menurunkan api dari langit dan membakar mereka hidup-hidup, seperti yang pernah Elia lakukan atas tentara Raja Ahab (II Raja-raja 1:9-10). “Namun, Ia tidak membuka mulut-Nya” sebagai pembelaan diri-Nya (Yesaya 53:7).
Mereka bahkan mengolok-olok Dia untuk mempermalukan Dia sebagai seorang nabi. Mereka menutup mata-Nya. Kemudian mereka memukul wajah-Nya dengan kepalan tangan mereka, dan berkata, “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?” (Matthew 26:68). Kita mengasihi para nabi. Yesaya menggetarkan hati kita dengan nubuat yang jelas tentang Kristus, dan penglihatan mendalamnya tentang keselamatan jiwa kita. Betapa kita harus merasa sedih memikirkan Yesus sang nabi itu, ditutup matanya dan dipukuli, diejek dan dihina di istana Imam Besar!
Tetapi Dia juga menderita ejekan sebagai Imam Besar kita. Yesus datang ke dunia untuk menjadi imam dan untuk mempersembahkan korban. Tetapi mereka mengejek keimamatan-Nya juga. Semua keselamatan itu ada di tangan para imam. Kemudian mereka berkata kepada-Nya, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Dia adalah Imam Besar. Dia adalah Anak Domba Paskah. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Betapa mengerikannya ketika Dia harus menderita ejekan dari mereka yang tidak memiliki hati! Namun Dia disalibkan, “dengan mengabaikan kehinaan” (Ibrani 12:2).
III. Ketiga, pikirkan tentang cambukan dan penyaliban yang Ia derita.
Dia diejek bahkan lebih lagi dengan dicambuk. Banyak bapa gereja mula-mula memberikan gambaran mengerikan tentang pencambukan yang diterima Kristus. Entah apa yang mereka katakan ini didasarkan pada kenyataan kita tidak bisa menjelaskan. Tetapi pencambukan yang diterima-Nya pastilah mengerikan, karena nabi berkata,
“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5).
Ini tentu cambukan mengerikan pada punggung-Nya - karena Nabi menyebutnya “luka,” “remuk,” “siksaan,” “bilur-bilur.” Setiap kali cambuk dicambukkan dengan kuat, cambuk itu mengoyak punggung-Nya, sementara para penyiksa-Nya tertawa seperti iblis-iblis neraka. Setiap kali Darah-Nya muncrat dari luka segar, dan daging terkoyak dari tulang rusuk, ada cemooh memalukan dan ejekan dan tertawa untuk membuat rasa sakit-Nya lebih mengerikan. Namun demi kebaikan kita, dan demi keselamatan kita, Dia telah membiarkan diri dipermalukan!
Kemudian Dia datang ke kayu Salib. Mereka memakukan-Nya untuk itu. Dalam kesetanan mereka, mereka terus mengejek dan menertawakan penderitaan-Nya! Para imam dan ahli Taurat duduk dan menyaksikan Dia menggeliat di kayu Salib. Saya bisa membayangkan mereka berkata, “Dia tidak akan pernah lagi dikerumuni oleh orang banyak!” “Ha, ha, ha, tangan yang menyentuh penderita kusta itu dan menyembuhkan mereka, dan yang membangkitkan orang mati, tidak akan pernah melakukannya lagi!” Mereka mengejek Dia. Dan akhirnya, ketika Ia berkata, “Aku haus,” mereka memberi Dia cuka asam untuk diminum - bahkan mereka mengejek mulut kering dan lidah bengkak-Nya!
Lihat betapa tenangnya Yesus berdiri,
Terhina di tempat yang sangat mengerikan ini!
Orang-orang berdosa telah membelenggu tangan Yang Mahakuasa
Dan meludahi wajah Pencipta mereka

Dengan duri menusuk dan melukai kepala-Nya
Mengalir darah dari setiap luka itu;
Punggung-Nya yang penuh dengan luka cambukan,
Namun cambuk yang lebih tajam menusuk jantung-Nya.
Salib! Salib! Ketika kita mendengar kata-kata ini hari ini, itu tidak memberikan kita pikiran memalukan. Tetapi di zaman Kristus salib tampak sebagai yang paling mengerikan dan menakutkan dari semua hukuman. Metode penyaliban yang mengerikan ini hanya diperuntukkan bagi para penjahat yang paling jahat, hanya diperuntukkan bagi - budak yang telah membunuh tuannya, pengkhianat, penjahat besar. Salib membuat kematian mengerikan dan sangat menyakitkan. Penyaliban adalah untuk penjahat - seorang pembunuh, penjahat, seorang pemberontak. Itu adalah cara yang sangat panjang, dan sangat menyakitkan untuk mati. Dari semua instrumen penyiksaan di dunia penyembah berhala, di dunia Romawi, tidak ada yang lebih kejam dari penyaliban. Kita tidak dapat memahami betapa memalukannya dengan mati di kayu salib. Tetapi orang-orang Yahudi tahu itu dan orang-orang Romawi tahu itu. Dan Kristus tahu betapa itu adalah hal yang sangat memalukan dengan ditelanjangi dan dipakukan di kayu salib. Dan penyaliban Yesus bahkan lebih buruk daripada yang lain. Dia harus memikul salib-Nya sendiri sepanjang jalan menuju penyaliban. Dia disalibkan di antara dua penjahat, yang berarti bahwa Ia adalah sama seperti penjahat pada umumnya. Hal ini membuat kematian-Nya bahkan lebih memalukan. Tetapi dia dipermalukan dan disalib - untuk keselamatan kita, dan sebagai teladan bagi kita!
IV. Keempat, marilah kita melihat lebih dekat kepada salib Yesus, dan melihat hal yang lebih hina lagi.
Salib! Salib! Kesedihan memenuhi hati kita pada saat memikirkan hal itu! Kayu kasar dibentangkan di tanah. Kristus dilemparkan di atas-Nya. Empat tentara menarik tangan dan kaki-Nya dan memukul paku menembus tangan dan kaki-Nya. Dia mulai berdarah. Kemudian Dia yang telah dipaku diangkat ke udara. Pangkal salib melesak ke dalam lubang yang telah mereka gali untuk itu. Lengan-Nya terkilir. Setiap tulang ditarik bersama dengan melesaknya pangkal salib ke lobang itu. Dia tergantung di sana dalam keadaan ditelanjangi dan memalukan, dipandang oleh kerumunan besar orang yang berkumpul di sana. Terbakar oleh panasnya sinar matahari yang menyengat daging-Nya yang telah kerkoyak-koyak. Demam mulai membakar di dalam tubuh-Nya. Lidahnya mengering dan menempel pada langit-langit mulut-Nya. Rasa sakit ini begitu menyiksa bahkan hampir tak tertahankan.
Lebih buruk dari semua itu, Dia telah kehilangan hal yang memberi kekuatan seperti yang diberikan kepada para martir. Dia telah kehilangan kehadiran Allah. Sekarang Bapa membuat Dia menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita. Sekarang Bapa adalah “berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah [bagi kita]” (Yesaya 53:10). Demikianlah Yesus – Ia ditinggalkan oleh Allah dan ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya!
Dipakukan di kayu terkutuk dalam keadaan telanjang,
   Menjadi tontonan bumi dan sorga,
Tontonan luka menganga dan darah,
   Luka dari keajaiban kasih.

Dengarkanlah! Betapa memilukan jeritan-Nya
   Para malaikat turut merasakan, ketika mereka melihatnya;
Para sahabat-Nya meninggalkan Dia malam itu
   Dan kini Allah-Nya meninggalkan Dia juga!
Di sini Yesus sendiri. Murid-Nya telah melarikan diri dalam ketakutan. Allah telah menghukum-Nya dan memalingkan wajah-Nya. Yesus ditinggalkan sendirian untuk diinjak-injak di tempat pemerasan anggur, dan mencelupkan pakaian-Nya dalam Darah-Nya sendiri! Untuk kebaikan kita dan untuk keselamatan kita, Dia diremukkan, dihancurkan, jiwa-Nya mengalami kesengsaraan bahkan sampai mati.
Pada zaman dahulu orang-orang menangis ketika Yesus digambarkan seperti ini. Kadang-kadang mereka bahkan berteriak keras dan menjerit dalam keharuan pada berbagai kebaktian. Tetapi kita hanya bisa membaca hal ini dalam buku-buku sejarah saat ini. Generasi Anda, setelah melihat ribuan sajian pembunuhan di televisi, tidak bisa meneteskan satu air matapun. Generasi Anda, yang telah bermandikan darah lima puluh lima juta bayi yang diaborsi, bahkan tidak bisa memberikan napas kesedihan, karena generasi Anda adalah generasi tanpa kasih sayang alami dan hanya bisa memberikan tatapan kosong! Jika Anda adalah generasi normal, Anda akan merasa kesakitan dalam hatimu, memikirkan Yesus yang telah mengalami semua ini untuk menyelamatkan jiwa Anda.
Tolong pikirkan, saudara-saudaraku, bahwa Yesus telah mengalami semua rasa sakit ini dan semua rasa malu ini untuk Anda, untuk keselamatan Anda dan sebagai teladan Anda. Dia disalibkan, dipermalukan karena Anda.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Roma 5:8-9).
Mari kita berdiri dan menyanyikan lagu terakhir pada lembaran lagu Anda.
Bila ku ingat salib-Nya,
   Di mana Yesus dipaku,
Harta yang dulu ku sembah
   Tidak mengikat hidupku

Kiranya rasa banggaku,
   Hanya di dalam Almasih,
Ku buang nafsu hatiku
   Karna korban-Nya yang suci.

Lihatlah pada dahi-Nya;
   Duka dan kasih tercurah.
Dahsyat mahkota duri-Nya:
   Yang hina jadi yang mulia.

Andaikan dapat ku beri
   Alam semesta pada Mu
Karna kasih-Mu yang murni
   Kupersembahkan diriku
   (“When I Survey the Wondrous Cross,” oleh Dr. Isaac Watts, 1674-1748/
      Terjemahan “Bila Kuingat SalibNya” dalam Nyanyian Pujian No. 189).
(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”
Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.
Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.
Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Matius 26:59-68.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“His Passion” (oleh Joseph Hart, 1712-1768).

GARIS BESAR KHOTBAH
KEHINAAN SANG JURUSELAMAT


“Yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).
(I Petrus 2:21)
I. Pertama, pikirkan tentang tuduhan memalukan melawan Yesus,
Lukas 23:4; Yohanes 18:38; Lukas 22:42; Yohanes 18:36.
II. Kedua, pikirkan tentang ejekan memalukan yang Yesus tanggung,
Matius 27:40, 43-44; Bilangan 16:33; II Raja-Raja 1:9-10;
Yesaya 53:7; Matius 26:68.
III. Ketiga, pikirkan tentang cambukan dan penyaliban yang Ia derita,
Yesaya 53:5.
IV. Keempat, marilah kita melihat lebih dekat kepada salib Yesus, dan melihat hal yang lebih hina lagi, Yesaya 53:10; Roma 5:8-9.

MEMANDANG SALIB ITU?


APA YANG ANDA RASAKAN KETIKA ANDA
MEMANDANG SALIB ITU?

WHAT DO YOU SEE WHEN YOU LOOK AT THE CROSS?
“Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia” (Matius 27:36).

Ketika saya masih remaja saya akan sesenggukan dengan air mata mengalir dari mata saya ketika saya mendengar tentang penyaliban meskipun saya belum diselamatkan. Saya hampir bisa merasakan bagaimana rasanya paku yang menembus tangan dan kaki Kristus. Ketika saya mendengar lagu yang baru saja dinyanyikan oleh Mr. Griffith saya selalu menangis. Saya harus menundukan kepala dalam-dalam karena itu membuat saya malu. Saya bisa merasakan rasa sakit yang Kristus rasakan. Saya sedih oleh karena penderitaan-Nya. Ini bukan berpura-pura. Tidak ada kepura-puraan itu. Saya merasakan nyeri di perut saya ketika saya berpikir tentang Kristus yang menderita di kayu Salib.
Saya tidak pernah mendengar dari orang-orang muda yang merasakan hal seperti itu hari ini selama ibadah hari Minggu. Dan saya kadang-kadang bertanya-tanya mengapa demikian. Mengapa begitu sulit bagi orang untuk merasakan empati terhadap penderitaan Kristus? Empati berarti merasakan rasa sakit yang orang lain rasakan. Kebanyakan orang saat ini tampaknya tidak tergerak oleh perasaan kasihan, kesedihan atau kasih sayang terhadap seseorang yang menderita. Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya kaget sekali ketika sekelompok anak muda tertawa saat mereka menyaksikan anjing kecil ditendang perutnya. Tawa mereka yang begitu lepas membuat saya ngeri. Tidak perlu dikatakan lagi, setiap satu dari mereka telah meninggalkan gereja kita. Butuh sebuah keajaiban yang nyata agar orang-orang yang keras hati itu dapat menjadi orang-orang Kristen!
Saya percaya penyebab dari hati mereka yang keras ini dapat ditelusuri melalui apa yang orang-orang muda itu tonton di TV, dan film-film, dan dalam budaya kita pada umumnya. Universitas Michigan merilis sebuah studi pada tahun 1999 yang menunjukkan bahwa orang-orang muda menonton lebih dari 16.000 pembunuhan di TV pada usia 18 - sekitar 900 pembunuhan setiap tahunnya di TV. Dan itu hanya TV! Ini tidak menghitung tontonan tentang para pembunuh dan pembunuhan yang mereka lihat di film-film, video game, dan di berita-berita tentang pembunuhan! Di atas semua hal mengerikan dan pembunuhan itu, orang-orang muda sangat menyadari bahwa 3.000 bayi meninggal oleh pisau aborsi setiap hari di negeri ini! Ya, 3.000 per hari - satu seperempat juta setiap tahunnya! Banyak pembantaian ini, dituangkan ke dalam pikiran orang-orang muda dan telah mempengaruhi emosi mereka. Saya yakin itu telah membuat generasi ini mengeras dan secara emosional kurang sensitif terhadap perasaan dari mereka yang sedang menderita.
Pagi ini saya meminta Anda untuk mencoba dan merasakan penderitaan Kristus yang mengerikan menuju kayu Salib. Apa yang Anda lihat ketika Anda melihat Salib Kristus? Pada hari Kristus menderita, ada banyak orang di dekat salib-Nya. Teks kita berkata bahwa prajurit yang memakukan Dia di kayu Salib duduk dan “menjaga Dia” (Matius 27:36). Banyak orang lain yang ada di sana menonton-Nya juga. Manakah dari antara orang-orang ini yang sama seperti Anda? Pikirkanlah tentang hal ini. Apa yang Anda lihat ketika Anda memandang Kristus di kayu Salib?
I. Pertama, para imam dan tua-tua melihat Dia sebagai musuh yang harus mati di kayu Salib.
“Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah’” (Matius 27:41-43).
Mereka mengejek dan mengolok-olok Dia pada saat Dia menderita di kayu Salib. Mereka melihat-Nya sebagai musuh, dan mereka senang untuk menyingkirkan-Nya. Ada orang-orang seperti itu hari ini. HBO benar-benar membayar orang seperti Bill Maher untuk mengejek Allah dan membuat lelucon untuk Kristus. Orang-orang seperti Richard Dawkins dan Christopher Hitchens telah membuat hidup makmur dengan menyerang Kristus dan Alkitab dan Allah itu sendiri! Mereka telah menjadi imam dan tua-tua ateisme. Madalyn Murray O'Hair, seorang ateis yang telah membuat doa dan pembacaan Alkitab dilarang di sekolah-sekolah kita, berkata,
“Yang terbaik dari semua kemungkinan bagi dunia ini jika setiap orang adalah atheis.”
“Saya seorang atheis karena agama hanyalah tongkat penopang dan hanya orang lumpuh yang membutuhkan tongkat penopang.”
“Saya akan melakukan aktivitas sek dengan laki-laki manapun dan di manapun suka-suka saya.”
Itulah yang para imam besar ateisme pikirkan! Itulah yang banyak dipikirkan oleh dosen Anda, di sekolah-sekolah sekuler. Mereka menolak Allah, seperti Dia benar-benar ditolak oleh orang-orang fasik di kaki Salib itu. Tuhan berfirman, “Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah"” (Mazmur 14:1). Apakah Anda seperti mereka? Apa yang Anda rasakan ketika Anda memandang Salib itu?
II. Kedua, para prajurit Roma melihat jubah-Nya dan mengundinya di kaki Salib itu.
“Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia” (Matius 27:35-36).
Orang-orang ini sangat materialistis sehingga yang mereka bisa pikirkan hanyalah jubah Kristus. Itu layak diuangkan, dan pikiran mereka begitu mengeras sehingga yang dapat mereka pikirkan hanya tentang bagaimana mendapatkan uang dengan mengundi serta memperebutkan jubah Kristus! Dimana pikiran Anda terfokus? Apa yang Anda lihat ketika Anda memandang Salib itu?
Banyak mahasiswa takut jika mereka menjadi Kristen itu akan mengganggu sekolah mereka, dan mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan yang baik ketika mereka lulus nanti. Uang! Uang! Uang! Itu saja yang banyak dipikirkan oleh anak-anak muda China di sini. “Ada uang yang harus hilang kalau saya menjadi orang Kristen,” kata mereka.
Dulu, ketika saya masih menjadi anggota gereja Tionghoa, saya telah membuat keputusan yang mengubah hidup. Saya memutuskan bahwa saya akan mengikut Kristus tidak peduli apapun harganya! Yesus mengajukan pertanyaan besar ketika Ia berkata,
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36).
Warren Buffett adalah salah satu dari lima orang terkaya di seluruh dunia. Tetapi dia memberikan jutaan dolar setiap tahun untuk Planned Parenthood, untuk membantu memusnahkan bayi tak berdaya di dalam rahim ibu mereka. Apa yang akan terjadi dengan jiwanya ketika dia meninggal dunia nanti? Dia berumur lebih dari 80 tahun sekarang. Apa gunanya bagi dia dengan memiliki begitu banyak uang, tetapi ia kehilangan jiwanya sendiri di dalam perut Neraka untuk selama-lamanya?
Para prajurit Romawi itu hanya melihat apa yang dapat mereka uangkan dari jubah Kristus. Apakah yang Anda lihat ketika memandang Salib Kristus?
III. Ketiga, salah satu penjahat yang disalibkan bersama dengan Kristus memandang Dia sebagai orang yang gagal di kayu Salib.
Ada dua penjahat, yang dipaku di kayu salib di kedua sisi Yesus. Yang pertama memandang Yesus dan berpikir bahwa Dia hanyalah seorang kriminal sama dengan dirinya. Dia berpikir bahwa Yesus hanyalah orang gila yang percaya bahwa Dia adalah Anak Allah. Dia memandang Kristus sebagai seorang fanatik agama, dan ia berpaling untuk mengolok-olok dan mengejek Kristus.
Beberapa tahun yang lalu saya mempunyai seorang teman yang baik. Saya selalu menyukainya. Suatu malam saya mengajaknya untuk datang ke gereja bersama dengan saya untuk mendengar Injil. Dia berkata , “Tidak.” Kemudian ia berkata, “Masing-masing saja, Robert. Masing-masing saja.” Saya tidak akan pernah melupakan dia mengatakan itu selama saya hidup. Yang ia maksudkan adalah bahwa saya boleh ke gereja dan ia boleh pergi bersama dengan teman-temannya untuk minum bir. Apa yang baik bagi saya berbeda dari apa yang baik baginya. “Masing-masing saja, Robert. Masing-masing saja.” Saya memandang ke dalam peti mati beberapa tahun kemudian. Dia belum memiliki sehelai rambut putihpun di kepalanya. Dia belum memiliki kerut di wajahnya. Dia masih berusia empat puluhan. Entah bagaimana ia tahu itu akan berakhir seperti itu. Meskipun ia dalam keadaan sehat, ia dulu pernah memberitahu saya, “Aku tidak akan pernah mencapai umur lima puluh tahun, Robert. Aku tidak akan pernah mencapai umur lima puluh.” Dia berumur empat puluh delapan tahun ketika ia tiba-tiba terjatuh dan meninggal dunia di rumahnya. Saya menatap dia dalam peti mati itu dan kata-kata yang pernah diucapkannya melintas kembali dalam pikiranku, “Masing-masing saja, Robert. Masing-masing saja.” Saat saya memimpin pemakamannya, saya tidak bisa memberikan satu kata pengharapan pun kepada keluarga dan teman-temannya - tidak satu kata harapan pun! Saya hanya bisa memberitakan Injil kepada mereka yang ia tinggalkan.
Penjahat pertama yang tergantung di salib di samping Yesus, bergumam dengan kata-kata hujat. Dia pikir Yesus hanyalah seorang fanatik agama. Sebelum matahari terbenam hari itu orang ini telah berada di Neraka. Apa yang Anda lihat ketika Anda memandang salib Kristus?
IV. Keempat, penjahat kedua memandang Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat di kayu Salib itu.
Pria ini telah mencerca Yesus bersama dengan orang-orang yang berkerumun sepanjang pagi itu. Namun pada siang hari kegelapan aneh datang menyelimuti daerah itu. Ia mendengar Yesus berdoa bagi mereka yang menyalibkan Dia.
“Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"” (Lukas 23:34).
Doa Yesus bagi mereka yang membunuh Dia sungguh membuat terharu hati penjahat kedua itu. Dia berhenti mengejek Yesus. Memutar kepalanya, dia memandang sang Juruselamat, dan hatinya meleleh. Dia tidak pernah tahu seseorang yang berdoa untuk musuh-musuh mereka agar diampuni.
“Bapa ampuni dosa m'reka” Ia sedang doa bagi kita
Ia rela d'rita sungguh heran, dengan kasihNya s'lamatkanku.
Juru S'lamatku! Juru S'lamatku!
Mahasuci Kau mati di salib; Darah tercurah kar'na dosaku,
Jadi tebusan penuh rahmat.
   (“Blessed Redeemer” oleh Avis Burgeson Christiansen, 1895-1985/ PPK 58).
Semua yang penjahat itu tahu adalah keganasan dari orang banyak yang berkerumun di sana, kelembutan kasih Yesus bagi mereka, dan tulisan yang dipaku di atas kepala Yesus yang mengatakan, “Inilah raja orang Yahudi” (Lukas 23:38). Tiba-tiba orang ini percaya! Dia pasti telah mendengar dari orang-orang yang disembuhkan dan dipulihkan oleh Yesus. Ia tentu telah mendengar apa yang Yesus telah khotbahkan. Kemudian itu semua datang memenuhi pikirannya. Ini adalah Raja orang Yahudi! Iniadalah Mesias! Ini adalah sang pembebas! Dia tidak memiliki semua fakta itu. Tetapi berapa banyak dari kita yang memiliki semua fakta tentang Yesus? Saya tahu saya tidak memiliki semua fakta itu – dan menurut saya, begitu juga halnya dengan orang lain. Dr. Lloyd-Jones mengatakan, “Fakta-fakta tidaklah cukup.” Ada banyak fakta yang dapat dipelajari tentang Kristus yang kita tidak akan pernah sepenuhnya fahami dengan pikiran kecil kita! Tetapi penjahat ini tahu bahwa ia adalah orang berdosa. Dia merasakan itu dalam hatinya! Dia berkata kepada penjahat yang tidak percaya, “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Lukas 23:41). Sungguh, “fakta-fakta tidaklah cukup.” Ini adalah dimana saya memikirkan beberapa saudara Reformed kita salah dalam hal itu. Dr. Lloyd-Jones benar, “Fakta-fakta tidaklah cukup.” Jika Anda mencari fakta-fakta untuk membuktikan Kristus bagi Anda, Anda akan mati dalam dosa-dosa Anda, dan tidak pernah diselamatkan. Alkitab dengan jelas mengatakan, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan” (Roma 10:10).
Di situlah kesalahan dari banyak pengkhotbah modern. Mereka berkhotbah untuk kepala dan bukan untuk hati. Oh, ya Tuhan, jangan biarkan aku melakukan itu! Tolonglah Bapa, tolonglah saya untuk berkhotbah kepada hati mereka! “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan.” Penjahat yang sedang sekarat itu memutar kepalanya dan memandang Yesus - dan dia berkata,
“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42).
Sebelum kata-kata itu meninggalkan mulutnya, penjahat kedua tersebut sudah diselamatkan! Dia tahu hanya sedikit sekali tentang doktrin. Dia tidak punya perasaan khusus, atau bukti bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Tetapi dia percaya kepada Yesus, dan “dengan hati orang percaya dan dibenarkan.” IA HANYA PERCAYA KEPADA YESUS! Hanya itu yang Allah minta!
Pada saat orang berdosa percaya,
   Dan percaya dalam Tuhan yang disalibkannya
Seketika pengampunan-Nya ia terima
   Penebusan penuh melalui Darah-Nya
(“The Moment a Sinner Believes” oleh Joseph Hart, 1712-1768).
Pencuri itu percaya kepada Yesus, dan diselamatkan pada saat itu juga! Anda tahu, itulah cara kita semua diselamatkan! Kami percaya kepada Yesus. Kita percaya kepada-Nya. Kita diselamatkan! Kata Yesus kepada penjahat yang diselamatkan itu,
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43).
Pada hari itu juga penjahat itu akan mati di kayu salib dan pergi bersama Yesus ke firdaus!
Diselamatkan oleh darah Dia yang Tersalib!
Kini t’lah ditebus dari dosa dan [hidup] baru dimulai,
Nyanyikan pujian bagi Bapa dan pujian bagi Anak,
Ku diselamatkan oleh darah Dia yang Tersalib!
Diselamatkan! Diselamatkan! Semua dosa-dosa ku diampuni,
Rasa bersalah ku telah pergi!
Diselamatkan! Diselamatkan! Ku t’lah diselamatkan oleh darah Dia yang Tersalib!
      (“Saved by the Blood” oleh S. J. Henderson, 1902).

Saat Anda percaya kepada Yesus, dan mempercayai-Nya dalam hati Anda, Anda akan diselamatkan seperti penjahat yang sedang sekarat - di kayu salib di sebelah Juruselamat. Yesus menyelamatkan si penjahat itu. Yesus membasuh semua dosa manusia dengan Darah yang Dia tumpahkan di kayu Salib hari itu! Dan Darah-Nya tersedia untuk mencuci dosa-dosa Anda pagi ini! Jangan pernah percaya kepada setiap pengkhotbah yang mengatakan kepada Anda bahwa itu bukan karena darah. Dr. Lloyd-Jones berkata, “Tidaklah cukup untuk berbicara tentang salib dan kematian. Ujian itu adalah 'darah!'”
Jika Anda mau percaya Yesus pagi ini, Anda akan disucikan dari segala dosa Anda dengan Darah-Nya! Anda akan diselamatkan! Anda akan menjadi seorang Kristen sejati! Anda akan siap untuk pergi ke Surga! Anda akan memiliki kehidupan baru di dalam Kristus! Bertobat dan percayalah kepada Juruselamat sekarang!
Jika Anda ingin berbicara dengan kami tentang bagaimana diselamatkan dan menjadi orang Kristen sejati, silahkan tinggalkan kursi Anda dan berjalan ke bagian belakang auditorium ini sekarang. Dr. Cagan akan membawa Anda ke ruangan lain di mana kita bisa berdoa dan berbicara. Jika Anda berada di sini untuk pertama kalinya, dan Anda memiliki pertanyaan Anda ingin bertanya kepada saya tentang khotbah ini, pergilah ke belakang auditorium sekarang. Saya sendiri akan duduk bersama dengan Anda dan berbicara kepada Anda. Pergilah cepat. Dr. Chan, silahkan berdoa kiranya seseorang akan percaya Yesus pagi ini. Amin.
(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah Dr Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Klik di “Khotbah Indonesia.”
Anda dapat mengirim email kepada Dr. Hymers dalam bahasa Inggris ke
rlhymersjr@sbcglobal.net (Click Here) – atau Anda juga boleh mengirim surat kepadanya
ke P.O. Box 15308, Los Angeles, CA 90015. Atau telepon beliau di (818)352-0452.
Naskah-naskah khotbah tidak dilindungi hak cipta. Anda dapat menggunakannya tanpa
meminta izin kepada Dr. Hymers. Namun, semua video khotbah Dr. Hymers dilindungi
hak cipta dan hanya dapat digunakan dengan izin.
Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Mr. Abel Prudhomme: Matius 27:35-44.
Persembahan Pujian Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“Blessed Redeemer” (oleh Avis B. Christiansen, 1895-1985).

GARIS BESAR KHOTBAH
APA YANG ANDA RASAKAN KETIKA ANDA
MEMANDANG SALIB ITU?
WHAT DO YOU SEE WHEN YOU LOOK AT THE CROSS?

“Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia” (Matius 27:36).
I.    Pertama, para imam dan tua-tua melihat Dia sebagai musuh yang harus mati di kayu Salib, Matius 27:41-43; Mazmur 14:1.
II.   Kedua, para prajurit Roma melihat jubah-Nya dan mengundinya di kaki Salib itu, Matius 27:35-36; Markus 8:36.
III.  Ketiga, salah satu penjahat yang disalibkan bersama dengan Kristus memandang Dia sebagai orang yang gagal di kayu Salib.
IV.  Ketiga, salah satu penjahat yang disalibkan bersama dengan Kristus memandang Dia sebagai orang yang gagal di kayu Salib, Lukas 23:34, 38, 41; Roma 10:10; Lukas 23:42, 43.